aku memang terlahir dari hasil perkawinan ibuku dan dia, tapi aku gak pernah meminta Tuhan untuk menciptakanku sebagai anaknya, atau dia sebagai ayahku, ini semua murni kehendak Tuhan.
mungkin ketika aku masih bayi, dia sangat menyayangiku, itu yang aku tau dari cerita nenek dan tanteku. mungkin karena aku anak pertama. tapi kemudian ketika lahir adikku yang kedua, sayang itu tiba-tiba lenyap, dan berubah menjadi amarah.
setiap kali aku melakukan kenakalan-kenakalan khas anak-anak, dia sudah siap menyantapku dengan ikat pinggang kulit di tangannya. bahkan pernah suatu kali dia tempelkan seterika panas ke lengan kecilku waktu itu, cuma karena aku gak mau pakai baju sehabis mandi.
sampai akhirnya aku tumbuh menjadi remaja yang takut sama bapaknya, dan meluapkan kekesalannya diluar. tidak sedikit aku berantem dengan teman laki-laki di sekolah maupun diluar sekolah. bahkan guru Bimbingan Konseling pun sampai hapal dg nama dan wajahku, karena terlampau sering aku melanggar peraturan sekolah.
sekarang, ketika aku sudah mulai dewasa, dan berhak mengambil keputusan sendiri dan berpendapat, aku mulai menganggap dia hanya sebagai laki-laki suami ibuku, karena aku memang tidak pernah memintanya untuk menjadi ayahku.
mungkin terdengar seperti anak durhaka, tapi apa cuma anak yang boleh dilabeli durhaka? kenapa bukan dia yg dilabeli bapak yang durhaka?
No comments:
Post a Comment